Senin, 28 Februari 2022

Definisi Dakwah

 

A  Dakwah

1.      Pengertian Dakwah

Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab dalam bentuk masdar dari kata kerja da’a yad’u da’watan yang mempunyai arti ajakan, seruan, panggilan, undangan, atau mengajak, memanggil atau menyeru.[1] Di dalam kamus al-Munjid Fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna dakwah sebagai orang yang memanggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya.[2] Dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 125 dapat kita jumpai pengertian dakwah sebagai berikut;

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[3]

 

Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurangdari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 9 macam yaitu:

a.       Menyampaikan dan menjelaskan

b.      Berdo’a dan berharap

c.       Mengajak dan mengundang

d.      Mendakwah/ menuduh

e.       Mengadu

f.       Meminta

g.      Malaikat Israfil

h.      Gelar

i.        Anak angkat

Dari berbagai pengertian di atas tidak lepas dari unsur-unsur tindakan pemicuan. Mengundang adalah memanggil seseorang untuk mengikuti kita, berdoa memanggil Tuhan untuk mendengar dan memenuhi permintaan kita, berdakwah/ menuduh memanggil orang yang berpendapat buruk, menagad memanggil untuk mengeluh, meminta hampir sama dengan doa, hanya pokoknya saja lebih Secara umum bukan hanya Tuhan, ajakan adalah memanggil seseorang untuk menghadiri suatu acara, Malaikat Israfil adalah yang memanggil orang untuk berkumpul di ladang masyhar dengan suara terompet, gelar adalah panggilan atau gelar untuk seseorang, anak angkat Apakah orang-orang disebut anak-anak kita meskipun mereka bukan berasal dari keturunan kita. Kata memanggil dalam bahasa Indonesia modern Kamuss mencakup beberapa arti yang diberikan oleh Al-Quran, yaitu mengundang, meminta, memanggil, mengundang, mengingat dan menamai. Jadi jika makna dakwah digeneralisasikan adalah menyerukan.[4]

      Para ulama dan pemikir muslimmemberi makna dakwah secara terminologis dengan definisi yang variatif seperti:[5]

a.       Ibnu Taimiyah: “Dakwah ke jalan Allah merupakan dakwah untuk beriman kepada Allah dan kepadda apa yang dibawa nabi Muhammad SAW, yang mencakup keyakinan kepada rukun iman dan rukun Islam

b.      Abu Bakar Dzikri: “Dakwah ialah bangkitnya para ulama Islam untuk mengajarkan Islam kepada umat Islam, agar mereka faham tentang agamanya dan tentang kehidupan sesuai kemampuan setiap ulama.

c.       Zulkifli Musthan: “Segala sesuatu dan kegiatan yang disengaja dan berencana dalam wujud sikap, ucapan dan perbuatan yang mengandung ajakan dan seruan, baik langsung atau tidak langsung ditujukan kepada orang perorangan, masyarakat atau golongan supaya tergugah jiwanya, terpanggil hatinya kepada ajaran Islam untuk selanjutnya mempelajari dan menghayati serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengertian dakwah di atas maka dapat disimpulkan dari para ahli tersebut bahwa dakwah pada hakikatnya adalah sessuatu kegiatan usaha atau aktivitas yang mengandung ajakan, seruan, dorongan dan panggilan kepada seluruh umat manusia untuk berbuat baik dan mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, berbuat amar ma’ruf nahi munkar untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. 

2.      Unsur-unsur Dakwah

Unsur-unsur dakwah merupakan komponen-komponen yang terdapat dalam kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah ­da’i (pelaku dakwah), mad’u (sasaran dakwah, maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqoh (metode) dan atsar (efek dakwah).[6]

a.       Da’i (Pelaku dakwah)

Da’i merupakan orang yang melaksanakan dakwah baik secara lisan, perbuatan maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu atau kelompok lewat sebuah organisasi. Secara umum da’i sering disebut mubaligh (orang yang menyampaikan dakwah ajaran Islam).[7]

Dai merupakan orang yang bertugas untuk mengajak, mendorong orang lain untuk mengikuti, dan mengamalkan ajaran Islam. Seorang dai juga terlibat dalam aktivitas dakwah atau aktivitas menyiarkan, menyeru, dan mengajak orang lain untuk beriman, berdoa, atau untuk berkehidupan Islam.

b.      Mad’u (Penerima dakwah)

Mad’u yaitu orang yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah baik secara individu maupun kelompok, baik manusia yang beragama maupun tidak beragama dan kepada orang yang belum beragama Islam. Muhammad Abduh membagi mad’u menjadi tiga golongan, yaitu:

1.      Golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran, dapat berpikir secara kritis dan cepat menangka persoalan.

2.      Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam serta belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang tinggi.

3.      Golongan yang beerbeda dengan kedua golongan tersebut, mereka senag membahas sesuatu tetapi hanya dalam batas tertentu saja dan tidak mampu membahasnya secara mendalam.

Mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau orang penerima dakwah, baik individu atau kelompok, baik orang yang beragama Islam maupun tidak yaitu secara keseluruhan.

c.       Maddah (Materi dakwah)

Materi dakwah merupakan sebuah pesan atau materi yang dismpaikan kepada mad’u, ada empat materi dakwah yang menjadi masalah pokok, yaitu:

1.      Aqidah

Semua aspek keimanan mempengaruhi moralitas manusia (moralitas). Karena itu, materi yang digunakan untuk adalah soal iman. Aqidah (Aqidah) merupakan bahan pokok dakwah dan memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan agama:[8]

a.       Keterbukaan melalui kesaksian (syahadat), dengan demikian orang Islam harus jelas identitasnya dan bersediah mengakui identitas keagamaan orang lain.

b.      Cakrawala pandangan yang luas dengan memperkenalkan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh semesta alam, bukan Tuhan kelompok atau bangsa.

c.       Ketahanan antara iman dan Islam atau antara iman dan perbuatan yang diimplementasikan dalam ibadah.

2.      Syari’ah

Materi ajaran syari'at sangat luas dan mengikat seluruh umat Islam. Syariah merupakan jantung yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam. Disamping mengandung dan mencakup kemaslahatan sosial dan moral, materi dakwah dalam bidang syari’ah dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar, jernih, cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil dalam persoalan. Materi dakwah yang menyajikan unsur syariat harus dapat menggambarkan atau memberi informasi yang jelas dibidang hukum dalam bentuk status hukum yang bersifat wajib, mubah, makruh, dan haram, hukum atau syari’ah sering disebut sebagai cermin peradapan manusia.[9]

3.      Mu’amalah

Islam merupakan agama yang menekankan urusan mu’amalah lebih besar porsinya daripada ibadah. Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial dari aspek kehidupan ritual. Islam adalah agama yang menjadikan bumi ini adalah masjid tempat mengabdi kepada Allah. Ibadah dalam mu’amalah diartikan sebagai ibadah mencakup hubungan dengan Allah.[10]

4.      Akhlak

Secara etimologis kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari “khulukun” yang berarti budi pekerti, perangai dan tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara terminologi, pembahasan akhlak berkaitan dengan masalah tabiat atau kondisi temperatur perilaku manusia.ilmu akhlak bagi Al-Farabi pembahasan tentang yang dapat menyampaikan manusia kepada tujuan hidup yang tinggi, yaitu kebahagiaan, dan tentang berbagai kejahatan atau kekurangan yang dapat merintangi usaha pencapaian tujuan tersebut.

Materi dakwah isi pesan yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u. Pada hakikatnya pesan dakwah yang disampakain yaitu memuat ajaran Islam yang secara umum yaitu pesan aqidah, akhlak dan syari’ah.

d.      Wasilah (Media dakwah)

Media dakwah merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan materi penuntutan. Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, Dakwah bisa menggunakan berbagai media. Hamzah Yaqub membagi media dakwah menjadi lima macam yaitu:[11]

1.      Bahasa lisan adalah media dakwah yang paling sederhana yang menggunakan lidah dan suara, dan dakwah dengan media ini dapat berupa ceramah, ceramah, dan bimbingan konsultasi.

2.      Tulisan merupakan media dakwah melalui tulisan, buku, majalah, surat kabar, spanduk dan lain sebagainya

3.      Lukisan merupakan media dakwah melalui lukisan gambar, dan sebagainya

4.      Audiovisual merupakan media populer yang dapat merangsang pendengaran, penglihatan, atau keduanya, seperti Televisi, film, dan Internet.

5.      Akhlak yaitu media dakwah melalui perbuatan nyatayang mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat dan didengarkan oleh mad’u.

Media dakwah merupakan peralatan yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah dari da’i atau orang yang menyampaikan dakwah depada mad’u yaitu orang yang menerima dakwah.

e.       Thariqoh (Metode dakwah)

Metode dakwah merupakan jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran dakwah. Dalam menyampaikan pesan dakwah, metode sangat penting peranannya, karena suatu pesan walaupun baik, tetapi disampaikan leat metode yang tidak benar, maka pesan itu bisa ditolak oleh penerima pesan. Metode dapat dilihat dalam Al-Quran pada surat An-Nahl ayat 125, dalam ayat tersebut adda tiga metode dakwah yaitu:[12]

1.      Bi al-Hikmah, Artinya berbicara tentang situasi dan kondisi tujuan dakwah, dan menekankan kemampuan dakwah, sehingga tidak ada paksaan dan pertentangan dalam berdakwah.

2.      Mau’zatul hasanah, Yaitu dengan memberikan saran dakwah atau menyampaikan ajaran Islam dengan kasih sayang, agar ajaran dan ajaran Islam yang disampaikan dapat menyentuh hati para hadirin.

3.      Mujadalah billati hiya ahsan, Artinya, berdakwah dengan bertukar pikiran dan berdebat dengan cara yang terbaik dengan tidak memberikan tekanan yang berat pada masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Metode dakwah merupakan cara, strategis, teknik, atau pola dalam melaksanakan dakwah, menghilangkan rintangan atau kendala-kendala dakwah agar dapat mecapai tujuan dakwah secara efektif dan efisien.

f.       Atsar (Efek dakwah)

Atsar (efek) sering disebut sebagai umpan balik (feed back) dalam proses dakwah, yang seringkali diabaikan oleh misionaris atau kurang diperhatikan. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa setelah dakwah disampaikan, acara dakwah akan berakhir. Padahal atsar sangat penting dalam menentukan dakwah selanjutnya.[13]

Efek dakwah yaitu hasil yang didapat dengan dakwah yang telah disampaikan oleh da’i, maksudnya yaitu hasil dakwah tersebut telah dicapai dengan dakwah yang disampaikan. Dengan kata lain pesan-pesan dakwah yang disampaikan dapat mencapai sasarannya.



[1] Nelson dan Hariya Toni, “ Ilmu Dakwah”,(Lp2 Stain Curup, 2013). Hlm.2

[2] Ibid., hlm. 3

[3] Departemen Agama Republik Indonesia, Op.Cit., hlm. 281

[4] Ibid., hlm. 4

[5] Ibid.. hlm. 4

[6] Nelson, “ Manajemen Dakwah”, (LP2 Stain Curup, 2010), hlm. 27

[7] Ibid.

[8] Ibid., hlm. 29

[9] Ibid., hlm. 30

[10] Ibid., hlm. 30

[11] Ibid., hlm. 33

[12] Ibid., hlm. 34

[13]  Ibid., hlm. 35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Video