A Dakwah
1.
Pengertian Dakwah
Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab dalam bentuk masdar dari kata kerja da’a yad’u da’watan yang mempunyai arti ajakan, seruan, panggilan, undangan, atau mengajak, memanggil atau menyeru.[1] Di dalam kamus al-Munjid Fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna dakwah sebagai orang yang memanggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya.[2] Dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 125 dapat kita jumpai pengertian dakwah sebagai berikut;
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[3]
Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurangdari 198 kali dengan makna
yang berbeda-beda setidaknya ada 9 macam yaitu:
a.
Menyampaikan dan menjelaskan
b. Berdo’a dan berharap
c. Mengajak dan mengundang
d. Mendakwah/ menuduh
e. Mengadu
f. Meminta
g. Malaikat Israfil
h. Gelar
i.
Anak angkat
Dari berbagai pengertian di atas tidak lepas dari unsur-unsur tindakan
pemicuan. Mengundang adalah memanggil seseorang untuk mengikuti kita, berdoa
memanggil Tuhan untuk mendengar dan memenuhi permintaan kita, berdakwah/
menuduh memanggil orang yang berpendapat buruk, menagad memanggil untuk
mengeluh, meminta hampir sama dengan doa, hanya pokoknya saja lebih Secara umum
bukan hanya Tuhan, ajakan adalah memanggil seseorang untuk menghadiri suatu
acara, Malaikat Israfil adalah yang memanggil orang untuk berkumpul di ladang
masyhar dengan suara terompet, gelar adalah panggilan atau gelar untuk
seseorang, anak angkat Apakah orang-orang disebut anak-anak kita meskipun
mereka bukan berasal dari keturunan kita. Kata memanggil dalam bahasa Indonesia
modern Kamuss mencakup beberapa arti yang diberikan oleh Al-Quran, yaitu
mengundang, meminta, memanggil, mengundang, mengingat dan menamai. Jadi jika
makna dakwah digeneralisasikan adalah menyerukan.[4]
Para ulama dan pemikir
muslimmemberi makna dakwah secara terminologis dengan definisi yang variatif
seperti:[5]
a.
Ibnu Taimiyah: “Dakwah ke jalan Allah merupakan dakwah
untuk beriman kepada Allah dan kepadda apa yang dibawa nabi Muhammad SAW, yang
mencakup keyakinan kepada rukun iman dan rukun Islam
b. Abu Bakar Dzikri: “Dakwah ialah bangkitnya
para ulama Islam untuk mengajarkan Islam kepada umat Islam, agar mereka faham
tentang agamanya dan tentang kehidupan sesuai kemampuan setiap ulama.
c.
Zulkifli Musthan: “Segala sesuatu dan kegiatan yang
disengaja dan berencana dalam wujud sikap, ucapan dan perbuatan yang mengandung
ajakan dan seruan, baik langsung atau tidak langsung ditujukan kepada orang
perorangan, masyarakat atau golongan supaya tergugah jiwanya, terpanggil
hatinya kepada ajaran Islam untuk selanjutnya mempelajari dan menghayati serta
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian dakwah di atas maka dapat disimpulkan dari para ahli tersebut bahwa dakwah pada hakikatnya adalah sessuatu kegiatan usaha atau aktivitas yang mengandung ajakan, seruan, dorongan dan panggilan kepada seluruh umat manusia untuk berbuat baik dan mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, berbuat amar ma’ruf nahi munkar untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
2. Unsur-unsur Dakwah
Unsur-unsur dakwah merupakan komponen-komponen yang terdapat dalam kegiatan
dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah da’i (pelaku dakwah), mad’u (sasaran
dakwah, maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqoh
(metode) dan atsar (efek dakwah).[6]
a.
Da’i (Pelaku dakwah)
Da’i merupakan orang yang melaksanakan dakwah baik secara lisan, perbuatan
maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu atau kelompok lewat sebuah
organisasi. Secara umum da’i sering disebut mubaligh (orang yang menyampaikan
dakwah ajaran Islam).[7]
Dai merupakan orang yang bertugas untuk mengajak, mendorong orang lain
untuk mengikuti, dan mengamalkan ajaran Islam. Seorang dai juga terlibat dalam
aktivitas dakwah atau aktivitas menyiarkan, menyeru, dan mengajak orang lain
untuk beriman, berdoa, atau untuk berkehidupan Islam.
b.
Mad’u (Penerima dakwah)
Mad’u yaitu orang yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah
baik secara individu maupun kelompok, baik manusia yang beragama maupun tidak
beragama dan kepada orang yang belum beragama Islam. Muhammad Abduh membagi
mad’u menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Golongan cerdik cendekiawan yang cinta
kebenaran, dapat berpikir secara kritis dan cepat menangka persoalan.
2. Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang
belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam serta belum dapat menangkap
pengertian-pengertian yang tinggi.
3. Golongan yang beerbeda dengan kedua golongan
tersebut, mereka senag membahas sesuatu tetapi hanya dalam batas tertentu saja
dan tidak mampu membahasnya secara mendalam.
Mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau orang penerima
dakwah, baik individu atau kelompok, baik orang yang beragama Islam maupun
tidak yaitu secara keseluruhan.
c.
Maddah (Materi dakwah)
Materi dakwah merupakan sebuah pesan atau materi yang dismpaikan kepada
mad’u, ada empat materi dakwah yang menjadi masalah pokok, yaitu:
1. Aqidah
Semua aspek keimanan mempengaruhi moralitas manusia (moralitas). Karena
itu, materi yang digunakan untuk adalah soal iman. Aqidah (Aqidah) merupakan
bahan pokok dakwah dan memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan agama:[8]
a. Keterbukaan melalui kesaksian (syahadat),
dengan demikian orang Islam harus jelas identitasnya dan bersediah mengakui
identitas keagamaan orang lain.
b. Cakrawala pandangan yang luas dengan
memperkenalkan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh semesta alam, bukan Tuhan
kelompok atau bangsa.
c. Ketahanan antara iman dan Islam atau antara
iman dan perbuatan yang diimplementasikan dalam ibadah.
2. Syari’ah
Materi ajaran syari'at sangat luas dan mengikat seluruh umat Islam. Syariah
merupakan jantung yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam. Disamping
mengandung dan mencakup kemaslahatan sosial dan moral, materi dakwah dalam
bidang syari’ah dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar, jernih,
cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil dalam persoalan. Materi dakwah
yang menyajikan unsur syariat harus dapat menggambarkan atau memberi informasi
yang jelas dibidang hukum dalam bentuk status hukum yang bersifat wajib, mubah,
makruh, dan haram, hukum atau syari’ah sering disebut sebagai cermin peradapan
manusia.[9]
3. Mu’amalah
Islam merupakan agama yang menekankan urusan mu’amalah lebih besar
porsinya daripada ibadah. Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan
sosial dari aspek kehidupan ritual. Islam adalah agama yang menjadikan bumi ini
adalah masjid tempat mengabdi kepada Allah. Ibadah dalam mu’amalah diartikan
sebagai ibadah mencakup hubungan dengan Allah.[10]
4. Akhlak
Secara etimologis kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari “khulukun”
yang berarti budi pekerti, perangai dan tingkah laku atau tabiat. Sedangkan
secara terminologi, pembahasan akhlak berkaitan dengan masalah tabiat atau
kondisi temperatur perilaku manusia.ilmu akhlak bagi Al-Farabi pembahasan
tentang yang dapat menyampaikan manusia kepada tujuan hidup yang tinggi, yaitu
kebahagiaan, dan tentang berbagai kejahatan atau kekurangan yang dapat
merintangi usaha pencapaian tujuan tersebut.
Materi dakwah isi pesan yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u. Pada
hakikatnya pesan dakwah yang disampakain yaitu memuat ajaran Islam yang secara
umum yaitu pesan aqidah, akhlak dan syari’ah.
d.
Wasilah (Media dakwah)
Media dakwah merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan materi
penuntutan. Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, Dakwah bisa
menggunakan berbagai media. Hamzah Yaqub membagi media dakwah menjadi lima
macam yaitu:[11]
1. Bahasa lisan adalah media dakwah yang paling
sederhana yang menggunakan lidah dan suara, dan dakwah dengan media ini dapat
berupa ceramah, ceramah, dan bimbingan konsultasi.
2. Tulisan merupakan media dakwah melalui
tulisan, buku, majalah, surat kabar, spanduk dan lain sebagainya
3. Lukisan merupakan media dakwah melalui lukisan
gambar, dan sebagainya
4. Audiovisual merupakan media populer yang dapat
merangsang pendengaran, penglihatan, atau keduanya, seperti Televisi, film, dan
Internet.
5. Akhlak yaitu media dakwah melalui perbuatan
nyatayang mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat dan
didengarkan oleh mad’u.
Media dakwah merupakan peralatan yang digunakan untuk menyampaikan materi
dakwah dari da’i atau orang yang menyampaikan dakwah depada mad’u yaitu orang
yang menerima dakwah.
e.
Thariqoh (Metode dakwah)
Metode dakwah merupakan jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk
menyampaikan ajaran dakwah. Dalam menyampaikan pesan dakwah, metode sangat
penting peranannya, karena suatu pesan walaupun baik, tetapi disampaikan leat
metode yang tidak benar, maka pesan itu bisa ditolak oleh penerima pesan.
Metode dapat dilihat dalam Al-Quran pada surat An-Nahl ayat 125, dalam ayat
tersebut adda tiga metode dakwah yaitu:[12]
1. Bi al-Hikmah, Artinya berbicara tentang situasi dan
kondisi tujuan dakwah, dan menekankan kemampuan dakwah, sehingga tidak ada
paksaan dan pertentangan dalam berdakwah.
2. Mau’zatul hasanah, Yaitu dengan memberikan saran dakwah atau
menyampaikan ajaran Islam dengan kasih sayang, agar ajaran dan ajaran Islam
yang disampaikan dapat menyentuh hati para hadirin.
3. Mujadalah billati hiya ahsan, Artinya, berdakwah dengan bertukar pikiran dan
berdebat dengan cara yang terbaik dengan tidak memberikan tekanan yang berat
pada masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Metode dakwah merupakan cara, strategis, teknik, atau pola dalam
melaksanakan dakwah, menghilangkan rintangan atau kendala-kendala dakwah agar
dapat mecapai tujuan dakwah secara efektif dan efisien.
f.
Atsar (Efek dakwah)
Atsar (efek) sering disebut sebagai umpan balik (feed back) dalam
proses dakwah, yang seringkali diabaikan oleh misionaris atau kurang
diperhatikan. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa setelah dakwah
disampaikan, acara dakwah akan berakhir. Padahal atsar sangat penting
dalam menentukan dakwah selanjutnya.[13]
Efek dakwah yaitu hasil yang didapat dengan dakwah yang telah disampaikan
oleh da’i, maksudnya yaitu hasil dakwah tersebut telah dicapai dengan dakwah
yang disampaikan. Dengan kata lain pesan-pesan dakwah yang disampaikan dapat
mencapai sasarannya.
[1] Nelson dan
Hariya Toni, “ Ilmu Dakwah”,(Lp2 Stain Curup, 2013). Hlm.2
[2] Ibid., hlm.
3
[3] Departemen
Agama Republik Indonesia, Op.Cit., hlm. 281
[4] Ibid.,
hlm. 4
[5] Ibid.. hlm.
4
[6] Nelson, “ Manajemen
Dakwah”, (LP2 Stain Curup, 2010), hlm. 27
[7] Ibid.
[8] Ibid., hlm.
29
[9] Ibid., hlm.
30
[10] Ibid., hlm.
30
[11] Ibid., hlm.
33
[12] Ibid., hlm.
34
[13] Ibid., hlm. 35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar